KITAB SAFINAH PDF

Hanya dengan taufik-Nya saya diberi waktu dan kesanggupan untuk menyelesaikan terjemahan matan yang penuh berkah ini. Mempelajari suatu madzhab dengan memulainya dari matan kecil adalah sebuah keharusan bagi penuntut ilmu agar dia memiliki pegangan dan memiliki sedikit wawasan tentang madzhabnya, tidak kaku menghadapi khilaf perbedaan , dan beragama dengan dalil. Banyak orang beragama ikut-ikutan dan mengukur kebenaran dengan banyaknya pelaku, padahal kebenaran itu diukur dengan dalil. Yang saya lakukan dalam penerjemahan matan ini adalah: 1.

Author:Kazishura Arashizuru
Country:Grenada
Language:English (Spanish)
Genre:Health and Food
Published (Last):28 November 2009
Pages:399
PDF File Size:20.48 Mb
ePub File Size:7.81 Mb
ISBN:873-3-95384-532-7
Downloads:69237
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Faekazahn



Ilmu-ilmu tersebut beliau pelajari dari para ulama besar yang sangat terkemuka pada abad ke H di daerah Hadhramaut, Yaman. Di berbagai negara, kitab ini dapat diperoleh dengan mudah di berbagai lembaga pendidikan.

Karena baik para santri maupun para ulama sangatlah gemar mempelajarinya dengan teliti dan seksama. Kitab ini disajikan dengan bahasa yang mudah, susunan yang ringan dan redaksi yang gampang untuk dipahami serta dihafal.

Syarh atau Penjelasan Kitab Safinah an-Najah Pertama, Kedua kalimat Syahadat yang menyatakan bahwa seseorang telah mempercayai dua hal, yaitu iman dan percaya bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul utusan-Nya. Persaksian ini merupakan komitmen keimanan seseorang yang tidak sebatas ikrar dan retorika an sich, namun diwujudkan dalam ranah amaliyah-aplikasi religiuitasnya.

Sebuah ikrar dan persaksian mengandung konsekuensi tersendiri, yaitu berupa ketaatan dan kepatuhan terhadap segenap doktrin Allah dan utusan-Nya.

Keduanya diistilahkan dengan Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul. Allah dan rasul-Nya tidak bisa dipisahkan, sebab rasul-Nya lah yang menyampaikan pesan-pesan dan ajaran-ajaran langit yang turun dari Allah. Dan setiap orang Islam wajib mempercayai segenal ajaran yang dibawa oleh rasul-Nya.

Apakah persaksian tersebut harus diikrarkan atau dilafadzkan melalui lisan dan diyakini dengan hati? Atau persaksian itu cukup diyakini dengan hati, tanpa dilafadzkan dengan lisan? Para ulama tauhid berbeda pendapat.

Pendapat pertama, seseorang yang meyakini dan menanamkan keimanan di dalam hati tanpa mengikrarkan dengan lisannya serta dalam kondisi normal, yaitu lisannya dapat berkata dan melafadzkan kata-kata, maka orang tersebut tetap tidak bisa dikatakan orang Islam alias masih kafir. Sedangkan urusan dia dihadapan Allah adalah hak perogratif yang tidak bisa dihukumi.

Pendapat yang kedua, yang diungkapkan sebagian besar ulama dan Imam Abu Manshur al-Maturidi menyatakan bahwa orang tersebut termasuk orang Mukmin dan Islam.

Sebab pengucapan Syahadat sebagai persaksian dengan lisan hanya untuk memenuhi persyaratan administrasi negara saja, sehingga dapat menikah, mendapatkan warisan dari keluarga atau orang tua yang Islam, dll, lantaran segenap hukum-hukum tersebut tidak dapat dijalankan kecuali setelah adanya ucapan persaksian, kejelasan dan iklan atau pemberitahuan pada pihak yang berwenang, seperti pemimpin negara, bupati, dll.

Sebab pengucapan dan persaksian dengan ikrar lisan adalah sebagian dari iman atau rukum iman, atau salah satu syarat sahnya iman di dalam hati.

Sementara jika seseorang yang lidahnya tidak memungkinkan mengucapkan atau mengikrarkan seperti karena bisu gebu atau karena mendadak mati, maka ulama telah bersepakan bahwa orang tersebut tidak diwajibkan atau gugur kewajiban untuk melafadzkan dan mengikrarkan persaksian syahadat dengan lisan.

Kedua, menjalankan shalat. Yang dimaksudkan adalah shalat lima waktu, dzuhur, asar, maghrib, isya dan subuh. Shalat selain dari yang lima waktu adalah sunnah. Ketiga, mengeluarkan zakat. Yaitu mengeluarkan zakat yang telah ditentukan oleh syarikat berupa harta, yaitu Onta, Kambing, Sapi, Emas, Perak, Kurma, Beras, dan anggur, yang harus dibagikan pada delapan kelompok yang berhak menerima zakat, yaitu kelompok fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, gharim orang yang punya hutang , sabilillah, dan anak jalanan.

Keempat, mengerjakan puasa di bulan Ramadlan. Ada tiga tingkatan puasa, pertama, puasa orang awam, yaitu mengosongkan perut dari makan dan minum dan mencegah kelamin; kedua, puasa orang khusus, yaitu selain yang dikerjakan orang awam, juga mencegah seluruh anggauta badan dari pekerjaan dosa; ketiga, puasanya orang yang elite khawash al-khawash , yaitu dengan memalingkan hati dari aktivitas yang rendah dan mengekang hatinya dari selain Allah.

Mengimani bahwa Allah adalah Tuhan seluruh makhluk di alam semesta ini. Dengan merenungi segala macam ciptaan dan makhluk sebagai kreasi Tuhan, maka kita akan semakin kuat imannya bahwa tidak mungkin alam semesta ini ada dengan sendirinya, pasti ada yang menciptakannya yaitu Allah.

Kita tidak boleh menyamakan atau menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, Ia tak berjasad, tak bertempat, tak beranak dan tak diperanakkan, tak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kedua, iman kepada utusan-Nya.

Mengimani mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda kenabiannya. Dan meyakini bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan nabi terakhir. Ketiga, iman kepada para malaikat. Meyakini bahwa malaikat adalah hamba Allah yang paling taat. Malaikat adalah makhluk yang diciptakan dari unsur cahaya yang teramat lembut, tidak memiliki jenis kelaim laki-laki atau perempuan maupun banci, tidak berayah atau beribu, tak beranak. Dan malaikat merupakan makhluk yang diciptakan untuk membawa misi perintah Allah dengan segala jenis perintah dan pekerjaannya.

Jumlahnya tak terhitung, bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa malaikat ada Dan di antara malaikat yang paling utama adalah Jibril yang bertugas membawa wahyu Tuhan. Keempat, iman kepada kitab suci. Empat kitab inilah yang wajib diyakini. Namun sejatinya kitab Allah tidak terbatas. Bahkan para nabi-nabi yang lain seperti Adam, Idris, Nuh, dan lain-lain pun memiliki kitab suci. Kelima, iman kepada hari akhir. Keenam, iman kepada takdir. Baik atau buruknya takdir adalah dari Allah.

Namun manusia berhak memilih dan diberi kesempatan untuk berikhtiar. Wajib ridha atas apa yang telah digariskan dan ditetapkan dalam takdir kehidupan. Tidak boleh marah, dan harus dapat nrimo ing pandum.

Tanda-tanda Baligh yaitu 3 : Sempurna umurnya 15 tahun pada laki-laki dan perempuan , dan mimpi pada laki-laki dan perempuan bagi umur 9 tahun , dan dapat haid pada perempuan bagi umur 9 tahun. Syarh atau Penjelasan Kitab Safinah an-Najah Tanda Aqil Baligh laki-laki dan perempuan Laki-laki yang menginjak dewasa, ditandai dengan bermimpi peristiwa yang tidak pernah dialaminya di alam nyata, seperti bersenggama dengan seorang perempuan dan dengan sebab mimpi indah tersebut mengakibatkan keluarnya sperma yang sejak kecil tersimpannya.

Dan biasanya laki-laki yang mengalami peristiwa tersebut pada usianya yang ke tahun. Jika laki-laki yang sudah berusia 15 tahun dan sudah mengeluarkan sperma mani maka ia termasuk laki-laki dewasa yang sudah aqil baligh dan mukallaf, yaitu seseorang yang wajib menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya.

Sedangkan perempuan yang sudah mengeluarkan darah haidl biasanya keluar pada umur 9 tahun sudah termasuk perempuan dewasa yang sudah aqil baligh dan mukallaf. Darah haidl adalah darah yang keluar dari vagina perempuan pada usia 9 tahun ke atas, dalam kondisi sehat, tidak dengan sebab sakit, dan tidak dengan sebab melahirkan. Warna darah haidl adalah hitam pekat dan panas.

Sebab jika darah tersebut keluar dengan sebab sakit maka bukan lagi darah haidl melainkan darah istihadhal; sedangkan jika dengan sebab melahirkan maka dinamakan darah nifas. Syarat-syarat Istinja dengan batu yaitu 8 : Bahwa adalah orang yg berisitinja itu dengan 3 batu , dan bahwa ia membersihkan tempat keluarnya najis , dan bahwa tidak kering najisnya itu , dan tidak berpindah najisnya itu , dan tidak datang atasnya oleh najis yg lain , dan jangan melampaui najisnya itu akan shofhahnya dan hasyafahnya , dan jangan mengenai najis itu akan ia oleh air , dan bahwa adalah batunya itu suci.

Ada dua alat atau benda yang dapat digunakan untuk bersuci, yaitu air dan batu. Masing-masing memiliki syarat-syaratnya sendiri agar dapat digunakan sebagai alat untuk bersuci. Di fasal bab ini telah diulas 8 syarat bersuci dengan menggunakan batu. Kita boleh bersuci hanya dengan menggunakan air yang telah memenuhi syarat untuk menghilangkan najis atau kotoran. Namun, yang lebih utama adalah menggunakan air dan batu sekaligus dalam mensucikan najis. Caranya adalah pertama-tama dengan menggunakan batu agar dapat menghilangkan kotoran atau najisnya, dan kemudan langkah kedua disusul dengan menggunakan air agar dapat menghilangkan sisa-sisa kotoran yang masih ada atau masih menempel di badan.

Namun sejatinya, jika hendak memilih salah satu dari air dan batu, maka yang lebih utama untuk bersuci adalah dengan menggunakan air. Meski dengan menggunakan batu juga boleh asalkan yang sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan tersebut. Fardhu-fardhu Wudhu yaitu 6 : Yang pertama Niat , yg kedua membasuh wajah , yg ketiga membasuh 2 tangan beserta 2 sikut , yg keempat menyapu sebagian dari kepala , yg kelima membasuh 2 kaki sampai 2 mata kaki , yg keenam tertib.

Definisi niat menurut kebahasaan adalah menyengaja qashdu , dan menurut istilah niat adalah menyengaja sesuatu bersamaan dengan mengejakannya. Tempatnya niat adalah di hati. Berarti jika niat dalam konteks wudlu, maka niat dihadirkan dalam hati ketika mengerjakan pekerjaan bembasuh wajah sebagai pekerjaan pertama dalam wudlu. Kedua, membasuh wajah. Batasan wajah yang wajib dibasuh dalam wudlu adalah jika arah memanjang adalah anggauta di antara tempat tumbuhnya rambut kepala secara umum dan di bawah kedua daging geraham luar lahyayni , yaitu kedua tulang besar yang berada di samping bahwa wajah yang di dalam mulut merupakan tempat tumbuhnya gigi-gigi bawah.

Sedangkan batasan wajah jika melebar yaitu anggauta di antara kedua telinga. Ketiga, membasuh kedua tangan beserta sikut. Segala sesuatu yang ada pada batasan tangan, baik berbentuk rambut, kutil, atau kuku, maka wajib dibasuh. Keempat, membasuh sebagian kepala. Maksudnya adalah jika kepala seseorang yang berambut, maka sudah dianggap cukup jika membasuh sebagian rambut yang menempel di atas kepalanya. Tapi kepala seseorang yang tidak ditumbuhi rambut, maka sebagian kulit kepalanya lah yang dibasuh.

Tidak diwajibkan untuk membasuh seluruh kepala. Kelima, membasuh kedua kaki bersama kedua mata kakinya. Maksudnya segala sesuatu yang ada pada kaki, seperti rambut, kutil, kuku, dll maka wajib dibasuh Keenam, tartib.

Artinya mendahulukan anggauta yang harus didahulukan dan mengakhirkan anggauta yang harus didahulukan. Tidak boleh mendahulukan anggatua yang semestinya dibasuh pada runutan akhir, dan mengakhirkan anggota yang semestinya dibasuh pertama. Namun, jika ada seseorang yang sedang mandi dengan menceburkan dan mekasukkan tubuhnya secara keseluruhan di sebuah lautan, danau atau sungai yang bersih, dengan niat berwudlu maka sah dan tartibnya dikira-kirakan saja. Wa Mahalluhaa Al-Qolbu. Wattalaffuzhu Bihaa Sunnatun.

Dan niat yaitu memaksudkan sesuatau berbarengan dengan perbuatannya. Dan tempat niat adalah hati. Dan melafazkan dengannya adalah sunah. Dan waktunya ketika membasuh awal bagian daripada wajah. Dan tertib yaitu bahwa tidak didahului satu anggota atasa anggota yg lain. Penjelasan Makna : Pengertian Niat dan Tartib Definisi niat menurut kebahasaan adalah menyengaja qashdu , dan menurut istilah niat adalah menyengaja sesuatu bersamaan dengan mengejakannya.

Tartib artinya mendahulukan anggauta yang harus didahulukan dan mengakhirkan anggauta yang harus didahulukan. Al-Qoliilu Maa Duunal Qullataini. Walkatsiiru Qullataani Fa Aktsaru. Dan air itu yaitu sedikit dan banyak. Yang sedikit adalah air yg kurang dari 2 kullah. Dan yang banyak yaitu 2 kullah atau lebih. Adapun bila air itu kurang dari 2 kullah maka lebih baik dicedok dengan gayung jangan dikobok.

Demikianlah jawaban kami , semoga Anda dapat memahaminya.

THE CRISPR CRAZE PDF

Download Kitab Safinatunnajah PDF

Tertib berurutan sesuai urutannya. Fasal Empat Niat itu ada tiga derajat, yaitu: 3. Jika sholat yang dikerjakan sunnah yang mempunyai waktu atau mempunyai sebab, diwajibkanlah niat mengerjakan sholat tersebut dan nama sholat yang dikerjakan seperti sunah Rowatib sebelum dan sesudah fardhu-fardhu. Jika sholat yang dikerjakan sunnah Mutlaq tanpa sebab , diwajibkanlah niat mengerjakan sholat tersebut saja.

ESM 3710 PDF

Kitab Safinah (Safinatun An-Najah) Lengkap Arab dan Terjemah

.

RFC 3161 PDF

Safinatun Najah – Matan dan Terjemah

.

Related Articles