ASKEP STROKE NON HEMORAGIK PDF

Respirasi Data Subjektif: - Perokok faktor resiko i. Interaksi Sosial Data Objektif : - Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi. Diagnosa : Perubahan perfusi jaringan, serebral berhubungan dengan interupsi aliran darah : gangguan oklusif, hemoragi, vasospasme serebral, edema serebral. Mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil dan tak ada tanda-tanda peningkatan TIK. Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan Mempengaruhi penetapan intervensi. Mengetahui kecenderungan tingakat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan mengetahui lokasi, luas dan kemajuan kerusakan SSP.

Author:Kazragami Dizragore
Country:Andorra
Language:English (Spanish)
Genre:Politics
Published (Last):12 March 2016
Pages:348
PDF File Size:16.90 Mb
ePub File Size:10.32 Mb
ISBN:248-9-20883-705-6
Downloads:52499
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Vudozuru



Respirasi Data Subjektif: - Perokok faktor resiko i. Interaksi Sosial Data Objektif : - Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi. Diagnosa : Perubahan perfusi jaringan, serebral berhubungan dengan interupsi aliran darah : gangguan oklusif, hemoragi, vasospasme serebral, edema serebral.

Mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil dan tak ada tanda-tanda peningkatan TIK. Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan Mempengaruhi penetapan intervensi. Mengetahui kecenderungan tingakat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan mengetahui lokasi, luas dan kemajuan kerusakan SSP. Dapat menunjukan TIA yang 3. Pantau tanda-tanda vital, seperti catat : merupakan tanda terjadi thrombosis CVS baru. Hipotensi dapat terjadi karena syok. Penningkatan TIK dapat terjadi karena edema adanya faktor pembekuan darah.

Tersumbatnya arteri subklavia dapat dinyatakan dengan adanya perbedaan tekanan pada ke dua Frekuensi dan irama jantung : auskultasi adnaya mur-mur. Catat pola dan irama dari pernapasan, seperti adanya periode apnea setelah pernapasan hiperpentilas, pernapasan cheynestrokes. Evaluasi pupil catat ukuran, bentuk, kesamaan dan reaksi terhadap cahaya. Kaji fungsi-fungsi yang lebih tinggi, seperti fungsi bicara jika pasien sadar. Berikan istirahat secara periodic antara aktivitas perawatan, batasi lamanya setiap prosedur.

Cegah terjadinya mengejan saat defekasi, dan pernapasan yang memaksa batuk terus-menerus. Perubahan terutama adanya bradikardia dapat terjadi sebagai akibat adanya kerusakan otak. Distrimia dan mur-mur mungkin mencerminkan adanya penyakit jantung yang mungkin telah menjadi pencetus CSV. Reaksi pupil diatur oleh saraf kranial okulomotor dan berguna dalam menentukan apakah batang otak tersebut masih baik.

Ukuran dan kesamaan pupil ditentukan oleh keseimbangan antara persarafan simpatis dan parasimpatis yang mempersarafinya. Respon terhadap refleks cahaya mengkombinasikan fungsi dari saraf kranial optikus dan saraf kranial okulomotor.

Gangguan penglihatan yang spesifik mencerminkan daerah otak yang terkena, mengindikasikan keamanan yang harus mendapat perhatian dan mempengaruhi intervensi yang akan dilakukan. Kaji ragiditas nukal, kedutan, kegelisahan yang meningkat, Maneuver valsalva dapat meningkatkan TIK dan peka rangssang dan serangan kejang. Berikan oksigen sesuai indikasi. Berikan obat sesuai indikasi : antikoagulasi, seperti natrium warfarin coumadin , heparin.

Merupakan kontraindikasi pada pasien dengan hipertensi sebagai akibat dari peningkatan resiko perdarahan. Antihipertensi Pengunaan dengan hati-hati dalam perdarahan untuk mencegah lisis bekuan yang terbentuk dan perdarahan berulang yang serupa. Hipertensi isoksupresin. Digunakan untuk memperbaiki sirkulasi kolateral atau Fenitoin, fenobarbital. Pengunaannya kontrolversial dalam mengendalikan edema serebral. Pelunak feses. Catatan : Fenobarbital memperkuat Persiapan untuk pembedahan, endarterektomi, bypass kerja dari anti epilepsi.

Mencegah proses mengejan selama defekasi dan yang Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, seperti berhubungan dengan peningkatan TIK. Mungkin bermanfaat untuk mengatasi situasi.

Diagnosa : Kerusakan mobilitas fisik, berhubungan dengan Keterlibatan neuromuskuler : Kelemahan, parestesia, Paralisis hipotonik awal , Paralisis spastis. Tujuan : Mempertahankan posisi optimal dari fungsi yang dibuktikan oleh takadanya kontraktur, footdrop. Mempertahankan integritas kulit. Bantu dalam pemilihan terhadap intervensi, sebab teknik yang berbeda digunakan untuk paralisis spastik dengan flaksid.

Letakkan pada posisi terlengkuk satu kali atau dua kali sehari Membantu mempertahankan ekstensi pinggul funngsional; jika pasien dapat mentoleransinya. Mulailah melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif pada Meminimalkan atrofi otot, meningkatkan sirkulasi, semua ekstermitas saat masuk. Anjurka melakukan latihan membantu mencegah kontraktur.

Catatan; stimulasi yang berlebihan dapat menjadi pencetus adanya perdarahan berulang. Paralisis flaksid dapat pertahankan posisi kepala netral.

Gunakan penyangga lengan ketika pasien berada dalam posisi kesalah satu sisi. Tempatkan bantal dibawah aksila untuk melakukan abduksi pada tangan. Mencegah adduksi bahu dan fleksi siku 9. Tinggikan tangan dan kepala Meningkatkan aliran balik vena dan membantu mencegah Posisikan lutut dan panggul dalam posisi ekstensi.

Pertahankan kaki dalam posisi netral dengan Mempertahankan posisi fungsional. Mencegah rotasi eksternal pada pinggul. Gunakan papan kaki secara berganti, jika memungkinkan. Penggunaan yang kontinu setelah perubahan dari paralisis flaksid ke spastik dapat menyebabkan tekanan yang berlebihan pada sendi peluru kaki, meningkatkan spastisitas, dan secara Bantu untuk mengembangkan keseimbangan duduk seperti nyata meningkatkan fleksi plantar.

Observasi daerah yang terkena termasuk warna, edema, atau meningkatkan respons propioseptik dan motorik. Jaringan yang mengalami edema lebih mudah mengalami Inspeksi kulit terutama pada daerah-daerah yang menonjol trauma dan penyembuhannya lambat. Stimulasi sirkulasi dan memberikan bantalan membantu mencegah Bangunkan dari kursi sesegera mungkin setelah tanda-tanda kerusakan kulit dan berkembangnya dekubitus. Alasi kursi duduk dengan busa atau balon air dan bantu pasien yang statis. Kolaborasi Berikan tempat tidur dengan matras bulat seperti egg crate mattress , tempat tidur air,alat flotasi, atau tempat tidur khusus seperti tempat tidur kinetik sesuai indikasi.

Tempat tidur khusus membantu dengan letak pasien obesitas kegemukan , meningkatkan sirkulasi dan menurunkan terjadinya vena stastis untuk menurunkan resiko terhadap Konsultasikan dengan ahli fisioterapi secara aktif, latihan cedera pada jaringan dan komplikasi seperti pneomonia resistif, dan ambulasi pasien. Program yang khusus dapat dikembangkan untuk Berikan obat relaksan otot, antispasmodik sesaui indikasi, Dapat membantu memulihkan kekuatan otot dan seperti baklofen, dantrolen.

Mungkin diperlukan untuk menghilangkan spastisitas pada ekstremitas yang terganggu. Tujuan - : Mendemonstrasikan metode makan tepat untuk situasi individual dengan aspirasi tercegah.

Mempertahankan berat badan yang diinginkan. Timbang BB sesuai kebutuhan. Tingkatkan upaya untuk dapat melakukan proses menelan yang efektif, seperti : 3.

Bantu pasien dengan mengontrol kepala. Letakan makanan pada daerah mulut yang tidak terganggu. Berikan makan dengan perlahan pada lingkungan yang tenang. Mulai untuk memberikan makanan per oral setengah cair, makanan lunak ketika pasien dapat menelan air.

Anjurkan pasien menggunakan sedotan untuk meminum cairan. Anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan kesukaan pasien. Pertahanakan masukan dan keluaran dengan akurat, catat - Dapat meningkatkan pelepasan endorfin dalam otak yang jumlah kalori yang masuk.

Anjurkan untuk berpartisipasi dalam program latihan atau makan. Identitas a. Klien Nama Lengkap Inisial : Tn. B Umur : 50 Tahun.

LM3524 DATASHEET PDF

Asuhan Keperawatan Stroke Non Hemoragik Dengan Ny. S di RS Tarakan Jakarta Pusat

Suzanne, Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah gangguan neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui system suplai arteri otak Sylvia A Price, Stroke non hemoragik adalah sindroma klinis yang awalnya timbul mendadak, progresi cepat berupa deficit neurologis fokal atau global yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbul kematian yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non straumatik Arif Mansjoer, Stroke non hemoragik merupakan proses terjadinya iskemia akibat emboli dan trombosis serebral biasanya terjadi setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari dan tidak terjadi perdarahan. Namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder. Arif Muttaqin, Berdasarkan manifestasi klinis a.

GOGOLJ SINJEL PDF

LP ASUHAN KEPERAWATAN STROKE NON HEMORAGIK (SNH)

Latar Belakang Masalah Menurut WHO, Stroke adalah terjadinya gangguan fungsional otak fokal maupun global, yang berlangsung dengan cepat, selama lebih dari 24 jam atau berakhir dengan maut, tanpa ditemukannya penyebab lain selain gangguan vaskuler. Stroke mengenai semua usia, termasuk anak-anak. Namun, sebagian besar kasus dijumpai pada orang-orang yang berusia di atas 50 tahun. Makin tua umur, resiko terjangkit stroke makin besar.

EVALUACION NEUROPSICOLOGICA BREVE EN ESPAOL NEUROPSI PDF

Askep Stroke Non Hemoragik.doc

Latar Belakang Penderita stroke cenderung terus meningkat setiap tahun, bukan hanya menyerang penduduk usia tua, tetapi juga dialami oleh mereka yang berusia muda dan produktif. Saat ini Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah penderita stroke terbesar di Asia Yastroki, Angka ini diperberat dengan adanya pergeseran usia penderita stroke yang semula menyerang orang usia lanjut kini bergeser ke arah usia produktif. Bahkan, kini banyak menyerang anak-anak usia muda Gemari,

THIRUMOOLAR THIRUMANTHIRAM WITH MEANING IN PDF

ASUHAN KEPERAWATAN STROKE NON HEMORAGIK ( SNH )

Penglihatan berkurang e. Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka ipsilateral sisi yang sama f. Gangguan rasa pengecapan dan penciuman Data obyektif: a. Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan, gangguan tingkah laku seperti: letergi, apatis, menyerang dan gangguan fungsi kognitif b. Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran, stimuli taktil f.

Related Articles